October 25, 2021

Sejarah

PROFIL DAN SEJARAH BERDIRINYA PONDOK PESANTREN NURUT TAQWA

Kabupaten Bondowoso terkenal dengan ‘Tape’nya. Kota tua yang masih lestari dengan situs-situs bersejarah peninggalan belanda dan penjajah lainnya menyimpan cerita di setiap sudutnya. Banyak ulama kaliber Internasional yang terkenal di Bondowoso, seperti Habib Muhammad al-Muhdhor, Habib Hasan Baharun dan lainnya. Kawasan kota Bondowoso memang tidak sepi dari para ulama dan para habaib, namun di daerah pelosok dan pedesaan masyarakat benar-benar haus akan ilmu agama.

Jembatan yang disebut masyarakat dengan nama ‘Geledhek Kodung’ terbentang di daerah Kalibagor (Perbatasan Situbondo-Bondowoso) menjadi pintu gerbang Bondowoso dari arah utara. Setelah melintasi jembatan, menuju ke arah kiri kita akan memasuki kawasan kecamatan Cermee. Dengan suasana pedesaan yang khas, terbentang sawah berhektar-hektar menjadikan udara semakin sejuk. Dari letak geografis, Desa Grujugan termasuk desa pertama kecamatan Cermee dari arah barat. Di desa inilah terdapat bilik sederhana, bilik yang setiap harinya melantunkan ayat suci al-Qur’an, mengkaji kitab klasik karya para ulama salaf popular, dan menerapkan akhlaqul karimah dalam kehidupan sehari hari.
Bilik yang menjawab kebutuhan urgen masyarakat pedesaan ini bernama Pondok Pesantren Nurut Taqwa. Didirikan dan masih diasuh oleh seorang kyai sederhana yang luar biasa, beliau adalah KH.Ma’shum Zainullah. Dengan kegigihan dan mujahadah super dalam menghidupkan agama, beliau berjuang melestarikan pesantren ini dengan pendidikan agama yang benar-benar beliau perhatikan, demi terciptanya kepribadian santri berakhlak dan berilmu agama yang bisa mengantarkan mereka menuju ridho Allah Swt. Harapan besar beliau kepada santri, ingin santrinya menjadi orang yang berguna.

Seperti ditulis dalam majalah Al Bashiroh Dalwa, cikal bakal berdirinya Pondok Pesantren Nurut Taqwa berangkat dari kepercayaan masyarakat kepada Ust. Nur Sahwi yang kini lebih popular dengan KH. Makshum Zainullah, untuk menghidupkan masjid agar terlaksana shalat berjamaah lima waktu di masjid yang kini bernama Masjid Nurut Taqwa yang terletak didalam kompleks pesantren sekarang. Dengan senang hati beliau menjalankan amanah tersebut. Hingga pada suatu hari pada tahun 1976, santri pertama  yang bernama Babun Rusydi putera tetangga datang berguru kepada beliau. Dan tahun inilah ditetapkan sebagai berdirinya pesantren nurut taqwa yang pada ini (2016) sudah ber”harlah” ke empat puluh tahun. Tidak terlalu muluk langkah awal beliau mengajari santri yang baru yaitu hanya mengajari santri cara bersalaman (mushafahah) yang benar begitu juga kepada santri baru yang lain mereka diajari ilmu agama dengan suguhan dongeng dan sebelum pulang para santri disuruh berdongeng atau bercerita kepada temannya secara bergantian begitu seterusnya hingga beberapa santri dari tetangga sekitar terus berdatangan tertarik untuk mendengarkan dongeng. Dalam catatan sejarah berdirinya pesantren nurut taqwa Abdul Ghoni yang berasal dari dusun Katerbhi Desa Ramban Wetan Kecamatan Cermee adalah santri yang pertama menetap di pesantren. Adanya santri mukim atau santri yang menetap di asrama menjadi salah satu prasyarat bagi sebuah lembaga pendidikan pesantren.

  1. Ma’shum Zainullah memulai langkah pertama dalam strategi membangun dakwah dan mengembangkan pendidikan, beliau ditemani Pak Sunarmi membuat kelompok-kelompok Sholawat, Pengajian dan Manaqiban di hamper setiap desa kecamatan Cermee, Prajekan dan sekitarnya. Retorika dakwah yang beliau terapkan mendapat sambutan hangat dari masyarakat, hal ini dibuktikan dengan banyaknya simpatisan yang mengikuti Madjlis tersebut karena pada dasarnya masyarakat di setiap desa pada saat itu sangat butuh dengan ilmu agama. Hingga tahun 2000-an beberapa majelis binaan beliau masih tetap eksis di tengah-tengah masyarakat.

Selain mendirikan majelis sholawat dan pengajian beliau juga mendirikan madrasah diniyah (sekolah keagamaan) pada tahun 1979 untuk menampung keinginan masyarakat belajar ilmu agama. Kepercayaan masyarakat terhadap kyai dalam mendukung perkembangan pondok pesantren Nurut Taqwa terus meningkat  sehingga semakin banyak santri yang mondok di pesantren nurut taqwa untuk berguru kepada beliau. Berdasarkan catatan administrasi tahun 2016, jumlah santri yang menetap berjumlah 565 santri putera dan puteri. Mayoritas santri berasal dari desa sekitar dan ada pula yang berasal dari Bondowoso kota, Situbondo, Jember, Banyuwangi, Madura dan Bali.

Secara filosofi nama “nurut taqwa” berarti sinar ketaqwaan dengan harapan para santri dan alumni kelak siap menebarkan cahaya keimanan dan ketaqwaan di tengah-tengah masyarakat. Sebagaimana kata pepatah, jadilah mercusuar di tengah gelapnya bahtera dan jika tidak, maka cukuplah menjadi sinar penerang gelapnya rumah. Harapan besar itu terus ditata hingga kini dengan usaha-usaha yang akomodatif sesuai perkembangan dan tuntutan zaman.  Hal itu nampak dari kurikulum pendidikan yang diterapkan oleh Pondok Pesantren Nurut Taqwa yang tidak jauh berbeda dengan pesantren lain di tanah Jawa. Sebagai pesantren berbasis Ahlussunnah Wal Jamaah dan bermadhab Syafi’i, Pondok Pesantren Nurut Taqwa menggunakan kitab-kitab turats bidang fiqh, tauhid, tashawuf, gramatika bahasa arab (nahwu sharf). Beberapa kita yang dibaca seperti Riyadhus Sholihin, Tafsir Jalalain, Fathul Qorib, al Yaqutun Nafis, al jawahirul kalamiyah, arbain nawawy, al hushunul hamidiyah, alfiah ibnu malik, al jurumiyah, al imrithy, Al Muhawaroh Al Haditsah, dan lain sebagainya. Sedangkan untuk formal, kurikulum yang diadopsi adalah Kurikulum resmi dari pemerintah yang dikombinasikan dengan kurikulum muatan local seperti ke-nu-an dan pemantapan paham aswaja an nahdliyah.

Pondok pesantren Nurut Taqwa mengajarkan ilmu agama bagi para santrinya melalui pengajian-pengajian di masjid dan musholla juga melalui Madrasah Diniyah yang terdiri dari jenjang Ula dan Wustho, jenjang Ula ditempuh selama empat tahun dan Wustho ditempuh selama dua tahun. Tidak hanya pelajaran agama, sebagai usaha untuk merespon perkembangan dan tutntutan zaman, pada tahun 1991 didirikan Madrasah Ibtidaiyah (MI) dilanjutkan Madrasah Tsanawiyah (MTs) pada tahun 1993. Dalam rangka untuk memantapkan posisi Pondok Pesantren Nurut Taqwa sebagai mitra pemerintah dalam ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, pada tahun 2003 didirikan Madrasah Aliyah (MA) Nurut Taqwa. Seiring dirasa perlunya membekali para santri jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) maka pada tahun 2014 disepakati berdirinya Sekolah Menengah Kejuruan dengan paket keahlian di bidang pertanian. Selain lembaga formal pesantren nurut taqwa juga mendirikan beberapa lembaga penunjang pendidikan santri agar lebih komperhensip, diantaranya LBA (Lembaga Bahasa Arab), LBI (Lembaga Bahasa Inggris), LBMK (Lembaga Bimbingan Membaca Kitab) dan yang terbaru saat ini adalah Lembaga Tahfidul Qur’an serta aktif dalam menyelenggarakan kegiatan diklat, dialog dan seminar masalah-masalah social keagamaan yang actual.

Dalam menjalankan tugas dan aktifitas sehari-hari, pengasuh memiliki dua sayap yang sangat berperan dalam perkembangan pendidikan di pondok pesantren Nurut Taqwa, beliau adalah K.H. Barri Shalawi Zain, M.Si selaku menantu sekaligus Ketua Yayasan alumni pesantren Salafiyah syafiiyah Sukorejo Situbondo dan alumni pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo dan K.H. As’ad Nawawi Ma’shum putra dan wakil ketua yayasan alumni Rubat Tarim dibawah asuhan Habib Salim bin Abdullah As Syatiri. Selain itu, pengasuh juga dibantu oleh pengurus yayasan untuk menggerakkan kinerja pesantren yang semakin besar dan kompleks yang tidak cukup diisi oleh para ahli agama saja tetapi juga oleh tenaga professional di bidang pendidikan, sosial, ekonomi dan organisasi guna dapat member pelayanan yang maksimal kepada umat.