Baru semalam, di atas guncangan sepeda motor yang menembus keheningan jalan, pikiran saya mendadak melayang pada lembar-lembar karya Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, Muhammad Al-Insan Al-Kamil. Ada sebuah kebenaran mendasar di sana: jika manusia pada umumnya adalah tempatnya salah dan lupa, maka Nabi Muhammad SAW adalah satu-satunya manusia paripurna. Sepanjang hayatnya, tak pernah ada kata yang tersisa untuk ego dirinya sendiri; seluruh helaan napasnya diwakafkan untuk keagungan Tuhan dan keselamatan umatnya. Maka wajarlah jika syi’ir populer yang sering kita dengar di dinding-dinding pesantren bertaut merdu: “Laulaka ya Muhammad, ma khalaqtul aflak”, jika bukan karena engkau wahai Muhammad, tidaklah Aku ciptakan alam semesta ini. Se-sempurna ini sosoknya, sungguh absurd rasanya jika masih ada yang menganggap tabu perayaan kelahirannya dengan vonis kaku bahwa Maulid adalah bid’ah.
Bagi saya, memperingati Maulid bukan sekadar soal polemik hukum keagamaan; ini adalah soal meluapnya kegembiraan cinta. Logika sederhananya: jika paman beliau yang ingkar dan menentangnya secara terang-terangan, Abu Lahab, saja diringankan siksanya setiap hari Senin di neraka hanya karena pernah bersukacita merdekakan budak saat mendengar kelahiran Muhammad kecil, lantas bagaimana dengan kita umatnya yang bersaksi atas kenabiannya? Apakah kerinduan itu hanya layak dipenjara dan dikeduk dalam satu bulan Rabiul Awal saja? Jika iya, betapa keringnya nurani kita. Bagaimana mungkin sebuah cinta tanpa pernah bertemu langsung dan tanpa hidup sezaman dengannya sanggup melahirkan mahakarya literatur yang begitu tebal dan indah, seperti Al-Barzanji karya Syaikh Ja’far Al-Barzanji atau Qasidah Burdah karya Imam Al-Bushiri?
Kedalaman cinta itu terekam sempurna dalam pusaka sastra para pencintanya. Kita tentu tak asing dengan bait agung dari penyair Rasulullah, Hassan bin Tsabit:
وَأَحْسَنُ مِنْكَ لَمْ تَرَ قَطُّ عَيْنِي .. وَأَجْمَلُ مِنْكَ لَمْ تَلِدِ النِّسَاءُ
خُلِقْتَ مُبَرَّءً مِنْ كُلِّ عَيْبٍ .. كَأَنَّكَ قَدْ خُلِقْتَ كَمَا تَشَاءُ
“Mata ini tak pernah melihat sosok yang lebih indah darimu.. Dan wanita mana pun tak pernah melahirkan bayi seelok dirimu. Engkau diciptakan suci tanpa cela sedikit pun.. Seolah-olah engkau diciptakan sesuai dengan kehendak dirimu sendiri.”
Atau bagaimana Imam Al-Bushiri mengukir bait magisnya dalam Burdah saat memuji kedudukan Rasulullah yang mengatasi seluruh nabi:
فَاقَ النَّبِيِّيْنَ فِي خَلْقٍ وَفِي خُلُقٍ .. وَلَمْ يُدَانُوهُ فِي عِلْمٍ وَلا كَرَمِ
وَكُلُّهُمْ مِنْ رَسُولِ اللهِ مُلْتَمِسٌ .. غَرْفاً مِنَ الْبَحْرِ أَوْ رَشْفاً مِنَ الدِّيَمِ
“Beliau mengungguli para nabi dalam rupa fisik maupun budi pekerti.. Tak ada satu pun yang mampu mendekati derajat beliau dalam keilmuan dan kemurahan hati. Dan mereka semua (para nabi) memohon cerukan air dari lautan samudra Rasulullah, atau seteguk cecapan dari hujan lebat kemuliaannya.”
Jika bukan karena Habib Umar bin Hafidz, saya pribadi mungkin tidak akan pernah mendengar atau meresapi syi’ir syahdu yang diucapkan oleh ibunda Nabi, Sayyidah Aminah, sewaktu memandang bayi mungilnya yang baru lahir. Sebuah bait perpisahan dan doa ibu yang menggetarkan batin:
بَارَكَ فِيكَ اللهُ مِنْ غُلاَمٍ .. يَا ابْنِ الَّذِي فِي حُومَةِ الحِمَامِ
نَجَا بِعَوْنِ المَلِكِ العَلاَّمِ .. فُودِيَ غَدَاةَ الضَّرْبِ بِالسِّهَامِ
بِمَائِهِ مِن إِبِلٍ سَوَامِ .. إِنْ صَحَّ مَا أَبْصَرْتُ فِي المَنَامِ
فَأَنْتَ مَبْعُوثٌ إِلَى الأَنَامِ .. تُبْعَثُ فِي الحِلِّ وَفِي الحَرَامِ
تُبْعَثُ بِالتَّوْحِيدِ وَالإِسْلاَمِ .. دِينِ أَبِيكَ البَرِّ إِبْرَاهَامِ
فَاللَّهُ يَنْهَاكَ عَنِ الأَصْنَامِ .. أَنْ لاَ تُوَالِيهَا مَعَ الأَقْوَامِ
“Semoga Allah memelihara keberkahan padamu wahai sang bayi.. Wahai putra dari sosok (Abdullah) yang pernah berada di ambang maut penyembelihan, namun selamat berkat pertolongan Sang Raja Yang Maha Mengetahui.. Sosok yang ditebus pada pagi hari pengundian anak panah, dengan seratus ekor unta yang gemuk.. Jika benar apa yang kuperoleh dalam mimpiku, maka engkau adalah utusan untuk seluruh jagat manusia.. Engkau diutus membawa hukum halal dan haram.. Engkau diutus membawa ajaran Tauhid dan Islam, agama leluhurmu yang mulia, Ibrahim.. Dan Allah menahanmu dari menyembah berhala, agar engkau tidak bersekutu dengannya bersama kaum-kaum jahiliah.”
Saya sempat membaca beberapa kitab ulama yang mengulas berbagai amalan dan “resep” agar seorang hamba berkesempatan bertemu Nabi SAW dalam mimpi. Namun, sebuah perenungan menahan langkah saya: jika dorongan untuk bertemu itu bukan berlandaskan cinta yang murni dan gelisah, lalu untuk apa? Andaikata amalan itu berhasil dan kita benar-benar dipertemukan dengan beliau di dalam mimpi, apa yang sebenarnya hendak kita perbuat dan pintakan di hadapannya?
Pertanyaan ini persis seperti yang diabadikan dalam lantunan lagu Lau Kana Bainanal Habib. Jika Baginda Nabi berada di hadapan kita hari ini, apakah kita punya keberanian untuk bersimpuh di dekatnya, memohon ampun atas kelalaian kita, ataukah kita justru tertunduk malu karena wajah dan hati kita yang terlalu kotor oleh dosa? Kerinduan yang sejati bukanlah obsesi pencapaian spiritual untuk sekadar “pernah bermimpi bertemu Nabi”, melainkan dorongan cinta yang melunakkan kerasnya hati agar kita sanggup meneladani akhlaknya.
Menghayati bait-bait ibunda Aminah dan menyadari betapa besarnya kerinduan para pencinta ini akhirnya menyadarkan kita bahwa puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW bukanlah ritus musiman yang dikurung oleh kalender. Mengingatnya adalah kebutuhan oksigen bagi jiwa yang rindu akan keteladanan paripurna. Selama detak jantung masih berdenyut dan napas masih dihembuskan, setiap hari adalah panggung kegembiraan, dan setiap hari adalah Maulid.

